PERERAT UKHUWAH, HINDARI FITNAH, TETAP ISTIQOMAH !! Gambar berjalan ke kanan

Kamis, 15 November 2012

Bab V



Anak didik, pernahkah Anda mendengar pembacaan laporan kegiatan kemudian memberikan penilaian? Laporan kegiatan merupakan bentuk pertanggungjawaban terhadap kegiatan yang telah dilaksanakan. Pada pembelajaran ini, Anda akan diajak berlatih mendengarkan pembacaan laporan tersebut. Tentunya Anda masih ingat pelajaran tentang paragraf. Untuk menambah pengetahuan, Anda pun akan diajak berlatih menulis paragraf deduktif dan induktif. Lalu, dalam bidang kesastraan, Anda akan memelajari  kembali puisi terjemahan, bagaimana sikap yang ditunjukkan penyair dalam penulisannya serta memberikan penilaian terhadapnya. Sedangkan pada aspek kebahasaan, Anda akan memelajari bagaimana penerapan jenis-jenis kalimat.




A.   MENDENGARKAN LAPORAN KEGIATAN
Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya laporan kegiatan merupakan bentuk pertanggungjawaban dari pelaksanaan kegiatan. Selain itu, laporan ditulis sebagai dokumentasi terhadap kegiatan yang telah dilaksanakan. Berikut ini disajikan laporan kegiatan yang dilaksanakan para siswa. Salah satu teman Anda membacakannya di depan kelas sedangkan teman yang lain mendengarkan dengan seksama sambil menutup buku.

Laporan Perjalanan Wisata ke Bali
Untuk mengisi liburan yang bertepatan dengan hari libur nasional, kelas kami mengadakan kunjungan wisata ke Bali. Kunjungan tersebut berlangsung selama dua hari, yakni tanggal 1-2 Februari 2008. Biaya yang dibutuhkan untuk keperluan wisata sebesar Rp 15.000.000,00. Biaya sebesar itu dibebankan kepada peserta wisata. Karena jumlah peserta sebanyak 50 orang, untuk menutup keperluan uang sejumlah tersebut, setiap peserta terbebani biaya Rp 300.000,00. Karena sifatnya studi wisata, kami juga mengadakan kunjungan studi ke SMA I Bali. Dalam acara tersebut, kami mengadakan tukar pendapat, berbagi pengalaman, dan bertukar informasi mengenai sekolah kami masing-masing. Melalui acara itu kami, memeroleh informasi yang berharga dan menambah wawasan tentang pengetahuan serta memperluas pergaulan. Setelah acara studi selesai, kami melanjutkan perjalanan ke objek wisata Pasar Seni dan Bedugul, dan seterusnya menginap di hotel. Pada hari kedua di Bali, kami mengunjungi objek wisata Sanur, Kute, Besakih, dan Istana Tampaksiring.

Kunjungan yang berlangsung selama dua hari tersebut tampaknya cukup melelahkan. Hal ini dikarenakan dalam waktu singkat harus mengunjungi beberapa objek wisata. Acara yang kami laksanakan cukup lancar dan membuat kami gembira dalam perjalanan pulang. Bali ternyata indah karena objek wisata dan masyarakatnya yang ramah serta sopan. Kami sangat terkesan dengan pulau dewata itu. Yogyakarta, 6 Februari 2008
            (Herlina Riyanti)




Menganalisis dan Menilai Laporan
Saat mendengarkan laporan yang dibacakan teman Anda, Anda harus menyiapkan peralatan tulis yang berfungsi untuk mencatat pokok-pokok dalam laporan tersebut. Bila yang diperdengarkan laporan perjalanan, maka hal-hal yang perlu dicatat sebagai berikut:
a.       tujuan perjalanan
b.      waktu perjalanan, biaya yang diperlukan, dan transportasi yang digunakan
c.        hasil perjalanan dari keberangkatan sampai pulang. Dapat pula dikemukakan kesan selama dalam perjalanan berangkat hingga pulang.

Berdasarkan unsur-unsur tersebut, Anda dapat melakukan analisis. Selanjutnya, bagaimanakah menilai sebuah laporan? Setelah Anda menganalisis kelengkapan unsur-unsur tersebut, berikanlah penilaian. Selain terhadap unsur-unsur tersebut, penilaian juga diberikan terhadap penggunaan bahasa (lisan). Apakah penerapannya sudah sesuai dengan penggunaan bahasa yang baik atau belum. Bagaimanakah struktur penulisannya, apakah sudah tertata dengan baik. Berikanlah penilaian seobjektif mungkin dengan tujuan demi perbaikan laporan tersebut.

B.   PARAGRAF INDUKTIF DAN DEDUKTIF
1.       Silogisme dan Entimen
Masih ingatkah Anda dengan pengertian paragraf deduktif? Paragraf deduktif adalah paragraf yang diawali dengan pernyataan-pernyataan yang bersifat umum kemudian diikuti dengan pernyataan yang lebih khusus. Pernyataan ini dapat dijabarkan lebih lanjut agar Anda lebih memahaminya dengan menampilkan kalimat terlebih dahulu kemudian kalimat penjelas.
Penjelas dapat berupa bukti yang dapat menguatkan sebuah kebenaran. Bukti dapat diambil dari hasil pengamatan atau penelitian.
Paragraf ini terbagi menjadi dua. Perhatikan uraian berikut:
a.       Silogisme
Silogisme merupakan cara berpikir yang bertolak dari satu atau lebih premis, yakni pernyataan-pernyataan yang mendahului, untuk menarik suatu kesimpulan menurut prinsip-prinsip logis perlawanan dan pendasaran yang mencukupi. Silogisme merupakan jenis deduksi yang banyak digunakan apabila seseorang menyusun suatu argumentasi. Silogisme terbagi menjadi dua yaitu:
1)      Silogisme Golongan/Kategori
Perhatikan Penjelasan berikut:
a) Premis Umum :  (= PU) menyatakan semua anggota golongan tertentu (= A) memiliki sifat tertentu (= B).
b) Premis Khusus : (= K) menyatakan bahwa sesuatu atas seseorang itu (= C) adalah anggota golongan tertentu itu (= A). Simpulan: (= K) menyatakan bahwa sesuatu atau seseorang itu (= C) memiliki sifat atau hal tersebut pada B (= B).

Bila dirumuskan sebagai berikut: PU: Semua A  =  B PK: C  =  A K : C  =  B
2)      Silogisme Negatif
Silogisme negatif ditandai dengan menggunakan kata tidak atau bukan pada premis atau kesimpulan. Apabila salah satu premis dalam silogisme bersifat negatif, kesimpulannya pun akan bersifat negatif pula. Bila dirumuskan sebagai berikut:
a)       PU : Semua AB     1.PU : Semua AB
PK : C = A PK : C = A K : C = B K : C =
b)      PU : Semua A=B   2.PU : Semua A=B
PK : C ¹ A PK : C ¹ A K : C ¹ B K : C ¹ B
b.      Entimen
Entimen adalah silogisme yang diperpendek. Dalam percakapan sehari-hari, suatu silogisme sering diperpendek yakni tanpa menyebutkan premis umum. Pernyataan langsung dikemukakan kesimpulan dengan premis khusus sebagai penyebabnya.
Bila dirumuskan sebagai berikut: Entimen = C = B, karena C = A

C.    MENDENGARKAN PUISI TERJEMAHAN
Bila pada pelajaran yang lalu Anda telah berlatih menentukan unsur-unsur dan membandingkankannya dengan puisi Indonesia, sekarang Anda akan berlatih menganalisis sikap penyir dan penghayatannya terhadap puisi terjemahan.
Sebelumnya, dengarkan terlebih dahulu pembacaan puisi terjemahan oleh salah seorang teman Anda.
Dengarkanlah dengan seksama sambil menutup buku agar lebih berkonsentrasi!

(Puisi pertama)
Seorang anak berpakaian permai, kalung permata di lehernya, tak
senang lagi dalam bermain.
Pakaiannya menghalangi dia dalam tiap-tiap langkahnya.
Takutkan koyak dan kotor ia tak berani bersama yang lain,
Sedang bergerak pun ia tak berani.
Benda rantai hiasmu tidak kami sukai,
jika rantai hias itu memisahkan kami dari bumi yang sehat,
jika ia mengambil hak kami untuk masuk
 keperalatan hidup manusia yang besar ini.

(puisi kedua)
O gila!
Engkau mencoba mengangkat dirimu dengan bahumu sendiri.
O peminta!
Engkau datang meminta ke pintumu sendiri.
 Percayalah segala beban pada tangan-Nya.
 Ia dapat menanggung segala-gala.
 Dan janganlah takut akan sesalan.

Keinginan tuan segera mematikan cahaya pelita
yang diusapkannya dengan napasnya.
Keinginan tiada suci-jangan terima hadiah dari tangannya najis.
Hanya terima apa yang diberikan dengan kasih kudus.                                      
(Kesusastraan Indonesia Modern, 1985:162)

1.       Menentukan Sikap Penyair
Seperti yang Anda ketahui bahwa setiap karya sastra mewakili pandangan hidup pengarangnya. Di dalamnya memuat berbagai macam ideologi, kepentingan, harapan, dan lain sebagainya yang merupakan perwujudan dari diri pengarangnya.
Coba Anda perhatikan nukilan sajak berikut yang merupakan terjemahan Taufik Ismail dari penyair Boris Pasternak yang berjudul  “Batasan Sajak”.

Sajak adalah siul melengking curam
Sajak adalah gemertak kerucut salju beku
Sajak adalah daun-daun menges sepanjang malam
Sajak adalah dua ekor burung malam menyanyikan duel
Sajak adalah manis kacang kapri mencekik mati
Sajak adalah air mata dunia di atas bahu                                     
(Sumber: Putu Arya Tirtawirya, 1982)
               
                Berdasarkan puisi di atas, penyair ingin menyatakan sikapnya terhadap batasan/pengertian sajak. Dia memaknai sajak sebagai sesuatu yang sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata indah. Ia banyak menampilkan kata-kata yang terasa mengerikan  seperti siul melengking namun curam,  dua ekor burung menyanyikan lagu duel atau seperti kacang kapri yang manis namun membuat kematian, dan perumpamaan lain.
Penyair lain, seperti Tagore pun memiliki sikap yang tegas dalam memandang dunia. Ia ingin hidup dengan penuh keselarasan dan keharmonisan. Walaupun cintanya besar kepada Tuhan, ia tidak mau membelakangi hal-hal duniawi.

2.        Menilai Penghayatan     
 Bagaimana penghayatan seorang penyair terhadap puisi yang ditulisnya, tentu tidak diragukan, karena puisi merupakan cetusan hati/ungkapan perasaan penyair.
Anda dapat mengamati kembali puisi “Tukang Kebun” di mana Penyair memiliki penghayatan yang dalam terhadap cintanya kepada alam dan kepada Tuhan yang telah menganugerahkan alam kepada manusia.

Ya, tahu aku, ini hanyalah kasih-Mu semata-mata, o kekasih hatiku! Cahaya emas yang menari di atas daun, awan yang tiada bertuju ini, yang berlayar di atas langit, angin yang menyisir lalu yang mengusap sejuk keningku.              
 (Terjemahan: Amal Hamzah dalam Tukang Kebun, 1976:8)

D.   JENIS KALIMAT SECARA PARAGMATIK
Pragmatik merupakan cabang ilmu bahasa yang berusaha mengungkapkan maksud yang berada di balik sebuah tuturan. Hal-hal yang dibahas adalah unsur- unsur di luar bahasa, seperti latar belakang penutur dan mitra penutur, situasi, waktu terjadinya atau tingkat pendidikan dan umur si penutur.
 Pragmatik sangat memperhatikan konteks (situasi) tuturan sehingga untuk menciptakan komunikasi yang baik sangat memperhatikan prinsip kerja sama agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.

Kosa Kata Bahasa Jawa :
cetha wela-wela : sangat jelas
 moso to : apa iya
gek pripun : lalu bagaimana
burem : buram, tidak jelas
pating dlemok : berceceran
 ndlewer : menetes
semi : setengah, separuh
keresap : meresap
katutan gabah-gabah : terikut kulit
beras padha : sama
ning : tapi, tetapi
 Londo : Belanda

1.       Mengidentifikasi dan Menyusun Kalimat Persetujuan/Tidak Setuju
Seperti yang telah dipaparkan di atas bahwa keterampilan menggunakan bahasa yang sesuai, selaras, dan serasi dengan faktor-faktor situasi disebut dengan keterampilan pragmatik. Pemilihan kata, pembentukan frase, penyusunan kalimat dengan panjang-pendeknya, penyusunan alinea dengan panjang-pendeknya, dan segi-segi bahasa yang lain- semuanya perlu diterapkan menurut situasinya.
 Demikian pula saat orang berbicara, beropini ada kalanya kita tidak setuju/ setuju dengan opini tersebut. Namun, pengungkapan atas persetujuan/tidak setuju hendaknya menggunakan kalimat yang baik dan tidak menyinggung perasaan orang lain.
Kalimat persetujuan biasanya berisi ungkapan persetujuan kita terhadap sebuah pendapat/perlakuan/pernyataan orang atau berisi rasa bangga sehingga menimbulkan kesatuan pendapat. Selain itu, bersifat bebas, sedangkan kalimat tidak setuju merupakan kebalikannya.
 Perhatikan pernyataan berikut:
a. Kalau demikian keputusannya, saya setuju!
b. Saya tidak setuju dengan keputusan tersebut!

2.       Mengidentifikasi dan Menyusun Kalimat yang Menyatakan Penolakan/Sanggahan
Kalimat penolakan adalah kalimat yang digunakan untuk menolak pernyataan/perlakuan/opini orang lain. Bila Anda menolak, susunlah kalimat tersebut sehingga tidak menyinggung perasaan orang lain.
Perhatikan contoh penolakan di bawah ini!
a. Saya sangat keberatan dengan pernyataan Anda tadi!
b. O, terima kasih. Saya sudah memiliki buku sendiri.

3.       Mengidentifikasi dan Menyusun Kalimat yang Menginformasikan dan Menanyakan Sesuatu
Memberikan/menginformasikan sesuatu hendaknya memilih kata-kata yang sifatnya netral dan tidak bermakna ambigu/ganda sehingga informasi yang disampaikan dapat sampai kepada orang kedua dan tidak menyimpang. Dalam penulisannya pun, kalimat berita ini diakhiri dengan tanda baca titik (.) dan pelafalannya datar.
Perhatikan!
 a. Kesehatan sangat mahal harganya. Oleh sebab itu jagalah pola makan yang baik dan benar.
b. Membeli obat generik sangat bermanfaat bagi masyarakat yang sangat membutuhkan.
Kalimat yang digunakan untuk menanyakan sesuatu dalam penulisannya diakhiri dengan tanda baca tanya (?) dan bila dituliskan, intonasinya turun. Coba Anda perhatikan!

4.       Mengidentifikasi dan Menyusun Kalimat yang  Digunakan untuk Menanyakan Sesuatu
Kalimat yang digunakan untuk menanyakan sesuatu dapat menggunakan kata tanya seperti apa, siapa, mengapa, dan sebagainya dan diakhiri dengan tanda baca tanya (?). Kalimat tersebut disebut kalimat tanya.
Perhatikan ilustrasi di bawah ini!
a. Mengapa akhir-akhir ini negara kita jauh dari rasa aman?
b. Apa yang Anda pikirkan tentang hal ini?
c. Siapa yang harus bertanggung jawab? Kalimat tanya juga bisa menggunakan partikel -kah.
d. Bisakah Anda menjawabnya?
e. Tidakkah Anda berpikir untuk mencari solusinya?

5.       Mengidentifikasi dan Menyusun Kalimat agar Pihak Kedua Melakukan Sesuatu
 Kalimat yang bertujuan agar orang kedua melakukan sesuatu dapat dikategorikan ke dalam kalimat direktif.
Perhatikan ilustrasi berikut!
a. Bukakan jendela kamar ini agar udara bisa masuk!
b. Tuliskan dengan bahasa yang benar!
c. Sertakanlah ilustrasinya!
d. Susunlah ke dalam kalimat yang baik!
 Bila Anda cermati ke-4 ilustrasi di atas akan Anda temukan karakteristik kalimat direktif yang berupa KK + akhiran -kan, KK + akhiran -kan +    partikel -lah untuk memperhalus isinya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar